Blog Gratis atau Berbayar

blog_gratis_atau_berbayar

Saya kenal blog sudah lebih dari lima tahun. Entah sejak SMA atau awal kuliah. Sudah pernah juga buat beberapa blog yang ga ada satu pun bisa konsisten untuk diisi :p

Yang paling banyak kontennya sih blog Tumblr ya.. Itu pun karena ada fasilitas reblog (saat jamannya facebook sedang booming) dan banyak teman yang pakai lalu saling reblog serta comment.

Setiap mau mulai nulis lagi setelah periode panjang ga nulis, saya selalu kepikiran mau nulis di blog yang mana. Kemarin ini sempat balik lagi ke Tumblr, tapi rasanya malas karena udah kebanyakan followers (teman-teman kuliah sih :p) dan jadi kurang bebas nulis :p

Saya juga sempat beli domain untuk blog di wordpress ini. Sempat juga beli domain dan hosting di dewaweb. Pikirnya sih waktu itu kalau ‘beli’ pasti lebih ‘niat’ untuk nulis, tapi tidak demikian kenyataannya :D

Personally, saya lebih prefer blog berbayar karena lebih long-term andai kata nanti mau dikembangkan dan dimonetisasi. Lebih kredibel juga kalau namanya http://www.blablabla.com dibanding http://www.blablabla.wordpress.com. Salah satu penghambat juga sih ini.. Kalau di blog gratis kan kita bisa ganti-ganti nama, sedangkan kalau di blog berbayar harus keluar uang seandainya berubah pikiran :(

Sekarang ini saya sedang dalam proses pilih-pilih nama lagi. Sepertinya ujung-ujungnya bakal pakai nama inisoraya lagi deh :p

Iklan

Kelas Make Over Your Mornings (Review dan Progres II)

moym progres 2_readyblog
Day 8 Make Over Your Mornings

Hari ini sudah hari kedelapan dari empat belas hari program MOYM. Alhamdulillah bisa menjalani dengan konsisten satu bab per hari. Ga usah terburu-buru dan juga ga perlu cepat menyerah. Jalani saja sesuai path nya.

Sejauh ini, berdasarkan target jam bangun tidur yang saya buat, dari delapan hari hanya dua hari yang tercapai. Meskipun begitu, guess what, terasa ada bedanya. Ketika bangun sesuai jadwal, saya ada motivasi lebih karena terbayang manfaat yang akan diperoleh. Tak pula merasa punya banyak ‘cadangan waktu’ yang justru menyebabkan buang-buang waktu. Pun ketika bangun terlambat, pagi saya tetap lebih intensional. Tidak perlu menghabiskan waktu meraba-raba apa dulu yang akan dikerjakan. Yang akibatnya, lebih sering mengerjakan apa yang tak perlu terlebih dahulu dikerjakan.

Untungnya (hehe), kelas ini tidak bicara tentang dulu-duluan bangun pagi, tetapi memanfaatkan pagi dengan maksimal. Bagaimana caranya? Yaitu, dengan membuat tujuan hidup yang jelas.

Yup, disini juga dibahas tentang goal-setting, topik yang sudah sering dibahas dan (mungkin juga) dipraktikkan, tapi sulit dijalankan. Membuat tujuan itu mudah, menjalankannya yang susah.

What the good thing about this course adalah disebutkan kalau membuat tujuan dan langkah-langkah mencapai tujuan itu haruslah sesuatu yang mendorong kita semangat mengerjakannya, bukan yang malah mengingatnya saja membuat kita down duluan. Step-by-step nya pun mesti bite-size, yakni yang bisa dijalankan dalam 15-30 menit. Kalau tidak, kita harus memecahnya lagi menjadi potongan yang lebih kecil.

Nah, that’s why my goals r never achieved! Kita cenderung bersemangat dan terburu-buru membuatnya, tapi tak realistis tentang bagaimana mencapainya. Yang ada hanyalah seseorang yang terlalu lelah dan merasa semua itu hanyalah angan-angan!

Lebih Baik Mana: Tukang Kampung atau Tukang Lokal?

tukang_blog_post
tukang yang sedang betulin genteng bocor

Musim hujan gini siapa yang kebocoran? Hehe. Saya pun. Awalnya sih hanya mau betulin yang bocor dan keramik setengah taman depan dan ganti rumput jadi rumput gajah.. Tapi apa daya.. Akhirnya ini itu juga ikut dikerjain.

Untuk kerjaan kali ini saya ambil tukang lokal yang tinggal di sekitar sini. Kalau renovasi tahun lalu, saya ambil tukang kampung, dari tetangga nenek di Temanggung.

Kalau ada yang tanya lebih baik mana sih tukang kampung atau tukang lokal bingung juga sih. Plus minus nya kurang lebih begini..

Tukang Kampung

(+) Jam kerja lebih terkontrol, ga ada kemungkinan dateng telat atau pulang cepet
(+) Ongkos lebih murah karena ngikutin harga pasar disana. Dilebihin pun masih lebih murah jatohnya
(+) Lebih kuat untuk kerjaan berat
(+) Biaya makan murah

(-) Kalau tiba-tiba ada urusan mendadak di kampung akan ninggalin kerjaan dan ga bisa jamin akan cepat pulang
(-) Tambahan ongkos antar kota
(-) Kadang kurang rapih

Tukang Lokal

(+) Biasanya rapih
(+) Lebih estetis, bisa kasih masukan
(+) Meskipun mungkin datang lambat, tapi lebih bisa dikontrol karena rumahnya dekat

(-) Ongkos standard perkotaan
(-) Kadang sok tau hehe

Seperti yang tadi saya bilang kalau untuk renovasi kali ini saya pakai tukang lokal. Alasannya karena

  • Ga lama, hanya maksimal satu minggu
  • Kerjaan lebih ke renovasi kecil, bukan berat macam ngedak atau bikin bangunan baru
  • Lebih ke keindahan, sehingga si tukang lebih ngerti barang apa aja yang ada di pasaran dan dimana belinya

Nah, kalau yang dulu renovasi tutup bagian belakang rumah dan rapih-rapih lainnya, saya panggil tukang kampung karena:

  • Kerjaannya lama. Waktu itu 40 hari sehingga lumayan hemat ongkos meskipun harus bayar bis dari temanggung kesini
  • Kerjaan berat yang harus pakai tenaga. Meskipun begitu, kerjaannya kurang rapi, sehingga ketika dirapi-rapikan sama tukang yang sekarang ada beberapa titik yang kurang pas dan bikin repot
  • Udah cukup kenal sama si tukang sehingga bisa ditinggal (karena saya renovasi tapi belum nempatin, cuma cek beberapa hari sekali)

Begitulah, semoga membantu ^^

Ikut Course Make Over Your Mornings (Review dan Progres I)

Ada yang tau online course Make Over Your Mornings? Bermula dari browsing tentang kehidupan wahm lalu ubek-ubek banyak website, akhirnya saya menemukan kelas ini dan memutuskan untuk ikutan. Sempat beberapa hari pikir-pikir dan cari testimonial plus review nya, sepertinya cocok untuk saya daaann.. tadaaa! Saya sign up dan perjuangan pun dimulai..

make over your morning screenshoot.png
Screenshoot home dari Make Over Your Mornings course

Kelas ini terdiri dari 14 bab yang dijalani harian selama 15 menit per hari. It’s not that overwhelming, tapi saking ngerasa mudahnya, saya coba untuk pelajari bab yang harusnya untuk keesokanharinya. Dan coba tebak. Ternyata beraaattttt… Materi yang 15 menit per hari itu memang hanya 15 menit per hari, tapi dibutuhkan waktu lebih lama untuk semacam “kontemplasi” atas materi dan arahan yang diberi. Anyway, saya tetap baca-baca aja keseluruhan babnya (karena penasaran!), tapi tetap menjalani sesuai schedule, terutama buat project-nya.

Sejauh ini sih, course ini oke banget untuk mengubah cara pandang terhadap hari-hari sebagai ibu. Project hariannya (berupa pertanyaan yang menuntut pemikiran panjang) juga slow but sure bisa bantu untuk menentukan arah, meskipun ya itu tadi, kalau dikerjakan 14 project sekaligus bakal terasa berat.

So, saya memutuskan ga akan buru-buru dan menjalani saja sebagaimana jadwal yang diberi ^^

Kita lihat besok gimana hasilnya ;)

a season in a life

mulai pekan ini gw udah tinggal kembali di jatiasih setelah kurang lebih dua minggu ngungsi ke jakarta.

seperti di post sebelumnya, dua minggu sakit dan ga di rumah menjadi titik balik buat keluarga gw–gw sendiri khususnya. akhirnya telah tiba saatnya kembali seperti dulu lagi hihi — tidur sepanjang malam sampai pagi, ga ada yang sedikit-sedikit nangis kalau ditinggal, dan hamil kali ini pun ga separah kehamilan pertama meskipun masih nyaris ga pernah ada hari tanpa ga sakit kepala.

banyak lah pelajaran yang gw dapet di masa-masa kemarin ini, misalnya…

you definitely need someone to share

bisa siapa aja. suami, teman, orangtua, keluarga.. kalo buat gw sendiri sih selain bisa buat cerita, orang itu juga harus bisa ngasih tanggapan yang gw pengen. haha. ga terlalu penting ngasih solusi, yang penting terlihat paham akan situasi yang sedang gw hadapi dan ngasih semangat *cewek banget :p

banyak research tentang ibu-ibu senasib

gw suka googling tentang cerita ibu-ibu rumah tangga jaman sekarang. which is lumayan beda dibanding ibu rumah tangga jaman orang tua kita dulu. gw seneng aja merasa ga sendirian melewati semua ini. karena yakin deh, sebaik apapun orang yang kita curhatin, ga bakal bisa sepeka orang yang bener-bener ngalamin hal yang sama. ini juga yang sekarang bikin gw share tentang pengalaman selama jadi sahm/wahm–supaya ada orang yang kebetulan lagi susah cari kawan senasib sepenanggungan bisa menemukan teman meskipun di dunia maya.

harus yakin masa-masa itu akan berlalu

kita ga bakal dan ga akan pernah tau seberapa lama masa tidur susah itu akan berlangsung. pun kita juga ga bisa nebak anak kita itu terlahir sebagai tipe gampang tidur atau yang dikit-dikit bangun. bingung kan. yang cukup gw sesali kemarin adalah terlalu hanyut dalam suasana. terlalu bawa perasaan, gitu.. harusnya bisa balik ngertiin orang yang ga ngerti kita kenapa dia bisa ga ngerti kita, ga gampang tersinggung kalo ada yang meremehkan, dan bikin impian menyenangkan buat kedepannya.

yakin, ga ada keringat dan air mata yang sia-sia

kayaknya gw ga pernah seberjuang ini sebelumnya. ga ada juga masa banyak air mata seperti saat masih orok selain sekarang. yah, anything worth it lah ya. minimal kita merasa senang dan lebih bersyukur saat semua berlalu. ya walau gw sadar seandainya gw menguasai skill-skill nya sih ga bakal terlalu kayak gini.. masak, bersih-bersih, pelayanan.. skill semacam itu yang masih sangat kurang.

di kehamilan lima bulan ini, gw juga jadi deg-degan dengan tipe anak kedua ini. kalau aliya, dari lahir, bobo malemnya udah panjang dengan bangun beberapa kali karena haus. karena ada kan, yang susah tidur malem banget.. ketuker sama siang.. malem malah seger.. hehe. yah, semoga apapun season yang sedang kita hadapi bisa dilalui dengan baik :)

review (penyesalan) satu tahun lima bulan belakangan

Dirawat selama lima hari kemarin membuat hidup gw sedikit banyak berubah, yang bikin kayaknya ini saat yang tepat untuk evaluasi dan menata ulang masa depan :p

Pertama, aliya sekarang udah ga menyusui, alias udah bisa disapih. Sudah hampir semingguan kali ya, bobo tanpa nenen dan ga pernah nenen lagi ^^

Kedua, dia pun sudah bisa jalan (yang katanya sih telat umur segini baru bisa jalan). Tapi entah karena efek udah bisa jalan atau disapih itu, dia jadi lebih enak tidurnya. Tidur malam bisa ga bangun sama sekali sampai pagi dan tidur siang pun bisa 2 jam sendiri. Beda sama dulu yang bangun-bangun terus. Sekarang malah gw yang kebanyakan tidur (karena belum terbiasa tidur ga pake bangun tengah malem) dan jadi pusing saat bangun pagi. haha

Jadi lebih santai dong? Iya sih.. Tapi kok malah mikir lagi andai dulu begini.. andai dulu begitu.. Haha. Manusia. Kurang lebih ini yang gw sesali 17 bulan ke belakang..

1  Ga Punya Tujuan yang Jelas

Gw punya hobi super banyak. Dan ketika blek ga kerja, gw jadi malah ky ngerjain itu (dimana dulu gw ga ada waktu) dan malah cuekin yang penting (dan jelas bukan hobi :p), seperti beres-beres dan kerjaan rumah lain. Ya harusnya sebagai sahm kita juga punya prioritas sih ya, meskipun hal itu ga kita suka.. Tapi ya karena udah jadi pilihan hidup, ya harusnya sih suka ga suka tetap didahulukan.

2 Tak Selalu Ada

Menjadi stay-at-home mom di zaman sekarang ini bukan hal yang mudah loh. Kalau jaman dulu kita bisa kabur dengan ngobrol ke tetangga, sekarang malah ga perlu keluar rumah. Semudah ngintip gadget pun bisa bikin kabur dengan mudah. Everytime we spend looking at those things (laptop, hp) berarti segitu juga waktu kebersamaan yang kita korbankan. euh. Tak selalu ada juga means gw jarang fully ada buat main sama anak. Gw jarang banget yang namanya eksplorasi sesuatu berdua (karena nganggep anak rese duluan, haha). Mulai sekarang sih sudah mulai sering ya.. Dan mulai rencana ngerjain project ini itu *brb ngintip buku rumah main anak dulu

3  Kurang Berkorban

Mungkin gw adalah salah satu orang santai di dunia. Ga bisa kehilangan waktu tidur, senang-senang, me-time — yang selama ini para ibu ributkan. Kalau anak belum bangun gw ga bangun.. kalau anak tidur siang, gw ikut tidur siang.. Ga selalu sih, tapi most of the time lah.. Ya mungkin kalau gw mengorbankan waktu-waktu tersebut untuk ga tidur, bisa lebih banyak kerjaan yang bisa dilakukan kali ya. Even melakukan semua itu gw punya alasan, yakni sedang menyusui (yang mana kondisi badan ini super lemes) dan lima bulan belakangan ini sedang hamil lagi.

4 Stay-at-home but not-stay-at-home

Gw selama ini meyakini gw ini adalah stay-at-home mom, yang mana punya waktu 24 jam di rumah dan untuk mengerjakan urusan rumah. Padahal enggaaaakkk.. Gw ada sampingan jualan online, sempet freelance nulis juga, hobi gambar dan jahit — yang mana semuanya butuh waktu! Dan kesalahan mendefinisikan diri ternyata seberdampak ini.. Hehe. Mungkin lebih dekat ke work-at-home mom ya harusnya, so, gw mestinya bisa lebih berkorban waktu (poin 3) dan juga ga merasa bersalah (dan bisa outsource tugas rumah) karena ga bisa fully managed our house.

Nah, untuk yang mungkin baca ini dan belum sampai pada fase hidup ky gw ini, gw sarankan untuk banyak tanya-tanya ke yang udah pernah ngalamin.. Juga banyak-banyak baca, terutama blog asing, yang mana ibu-ibunya banyak yang ga kerja atau kerja di rumah. Coba googling pake keyword seperti “a day in a life of stay at home mom”, “a day in a life of work at home mom” supaya bisa tau gimana sih orang lain hidup dengan ritme yang sama ky kita. Atau tips-tips lain seperti “how to manage clutter”.. Dan kalau termasuk visual learner, kyny better pakai pinterest karena blognya kebanyakan bagus-bagus dibanding cari di google. hehe.

note:
duh kok lebih lancar nulis pakai kata ganti “gw” ya T.T

Week #15: 2 Bulan Tanpa Menulis Tak Berasa

2-bulan-tak-menulis-3Setelah menulis Week #14 tempo hari, saya baru sadar kalau terakhir menyentuh blog adalah tanggal 15 April. Hmhm..

Sudah dua bulan lamanya tidak menulis kenapa tidak berasa ya. Padahal kalau sekarang di flashback rasanya kok menyesal. What a waste of time.. Bahkan saya sudah lupa pekan ke-15 kemarin berbuat apa saja. Hmm.. Mungkin masih berkutat seputar renovasi rumah ya.. Berhubung renovasi rumah memakan waktu 40 hari, dan yang banyak megang itu saya, dan masih harus mengurus yang lain-lain.. kegiatan merangkum keseharian dalam sebuah tulisan menjadi terabaikan.

Sebenarnya sih sekarang saya masih menimbang-nimbang apa tulisan bermanfaat yang bisa diambil dari kegiatan dua bulan belakangan ini. Karena sepertinya terlalu banyak post kegiatan sehari-hari tampaknya banyak merugikan, baik bagi diri sendiri, maupun (apalagi) bagi orang lain. Mengapa? Ini yang ada di pikiran saya.

Terlalu mengekspos keluarga bisa disalahgunakan pihak-pihak tak bertanggung jawab

2-bulan-tak-menulis-1Pernahkah Anda pernah mendengar cerita tentang anak yang hampir diculik karena si pelaku menyimak sosmed si ibu? Kegiatan apa saja yang sudah dan akan dilakukan, mereka sudah dan akan pergi kemana, keinginan mereka, apapun lah–bisa dimanfaatkan si pelaku kejahatan.

Orang lain jadi malas membaca tulisan kita karena terlalu ke-aku-an

2-bulan-tak-menulis-2Kalau kamu jalan-jalan ke Singapore trus kenapa? So what? Hehe. Bukan apa-apa. Mungkin bisa diambil cerita sisi lain yang bermanfaat selain posting foto-foto selfie. Hehe. Misalnya, cara mengurus bayi ketika dalam perjalanan jauh seperti itu, bagaimana membuat bayi terlihat bahagia ketika difoto, dsb dsb. Kini orang-orang sudah banyak yang mulai sadar kalau too much information yang ga penting mengurangi kemungkinan memori kita mendapat informasi yang penting (refer to Sherlock). Pernah dengar tentang penelitian yang menyebutkan bahwa informasi yang kita dapatkan dari seminggu koran New York Times lebih banyak dari informasi yang didapatkan orang-orang puluhan tahun yang lalu selama seumur hidupnya?

That’s if you’re an intentional blogger :D

xoxo
HaibaHaibuSignatureBlack